Mengobati Orang Dewasa dapat Menyelamatkan Mereka

Saya ingin bercerita tentang pengalaman belajar di salah satu stase selama PPDS pulmonologi dan kedokteran Respirasi yaitu respirologi anak. Kami belajar di bangsal, poliklinik dan juga mengikuti kegiatan ilmiah PPDS Ilmu Kesehatan Anak (IKA) selama 1 bulan. Pagi itu seorang ibu muda memberi tahu kami kalau anaknya hari ini ulang tahun. Seorang anak perempuan cantik yang hari ini berarti berusia 2 tahun. Putrinya sudah dirawat di bangsal ini hampir satu bulan, setelah dilakukan pemasangan selang di kepalanya akibat penumpukkan cairan di dalam otak (hidrosefalus). Mama mengatakan bahwa tidak menyangka bahwa putrinya akan menderita sakit berat seperti ini. Selama mendampingi putrinya di RS pasangan suami istri ini sangat antusias sekali dan bahkan mencari tahu setiap istilah yang mereka dengar ketika dokter datang memberi perawatan maupun mendiskusikan tentang sakit putrinya. Orang tua merasa sangat menyesal karena terlambat mengetahui bahwa gejala-gejala sakit yang dialami putrinya adalah gejala tuberkulosis (Tbc). Putrinya mulai sering demam tanpa sebab yang jelas saat umur 8 bulan, berat badan tidak mau naik dan perkembangannya juga terlambat. “saya baru tahu ternyata Tbc tidak hanya mengenai paru, tetapi juga bisa menyebabkan meningitis” ujar mama menyesal. Anak juga tidak pernah mendapatkan imunisasi BCG maupun imunisasi lainnya. Riwayat kontak dengan penderita Tbc tidak diketahui, namun ibu mengatakan mereka pernah mengontrak rumah dan tinggal dengan pemilik rumah yang badannya kurus dan sering sakit-sakitan dan batuk. Ibu muda tersebut berpesan kepada orang tua lainnya, apabila ada keluarga yang positif sakit Tbc segera periksakan anak-anaknya apakah sudah ada mengalami gejala atau sakit Tbc juga. Menurut beliau selama ini mereka jarang mengetahui tentang informasi Tbc, mungkin karena jarang ke puskesmas yang ternyata belakangan diketahuinya bahwa sudah banyak sosialisasi dan program-program dari puskesmas tentang penyakit Tbc ini. Harapannya agar petugas kesehatan lebih meningkatkan lagi sosialisasi tentang Tbc. Pasien kedua adalah bayi laki-laki, usia 4 bulan, dirawat dengan meningitis tuberkulosis juga. Sejak satu bulan ini anak sering demam. Anak mengalami penurunan kesadaran setelah demam sejak 2 minggu. Rontgen dada menunjukkan gambaran Tbc. Kakak pasien mengatakan bahwa ayah mereka sedang makan obat anti Tbc (OAT) bulan ke 5. Ayah mulai makan OAT sewaktu anak masih dalam kandungan ibu. Ketika mengetahui bahwa anak dirawat di RS, pihak puskesmas sudah datang ke rumah dan melakukan investigasi kontak terhadap anak-anak yang kontak dengan ayah pasien. Pihak puskesmas juga melakukan tes mantoux dan pemeriksaan dahak terhadap keluarga lain dengan gejala batuk. Kakak pasien bertanya apakah piring dan makan dari penderita Tbc harus dipisahkan? Karena menurut nenek pasien, Tbc bisa menular lewat makan dan minum dengan wadah yang sama meski sudah dicuci. Ternyata masih banyak hal tentang Tbc yang perlu dijelaskan kepada masyarakat. Keluarga mengatakan bahwa mereka dulunya merasa malu tentang penyakit Tbc ini sehingga mereka tidak terbuka dengan petugas kesehatan, namun dengan apa yang sudah dialami saat ini mereka menyadari pentingnya segera berobat dan memeriksakan anak-anak yang kontak dengan penderita ke puskesmas atau RS. Cerita diatas hanya beberapa contoh dari kondisi yang saya temui di lapangan. Pasien lain seperti anak usia 12 tahun yang kejang dan tidak sadar, ternyata bapaknya adalah penderita Tbc yang tidak mau makan OAT. Apakah mengajak beliau agar mau makan obat itu mudah? Ternyata tidak, setelah pertemuan ketiga, beliau ini baru menyerah untuk mau makan obat. Ya, memang ini PR kami dan tentu saja juga menjadi tanggung jawab masyarakat dalam komunitas. Konsulen pembimbing saya juga pernah cerita bahwa ada bayi di tempat penitipan anak yang tertular kuman Tb kebal obat/ Tbc Resisten Obat dari pengasuhnya. Tentu saja kita tidak ingin ini terus terjadi, oleh karena itu perlu ditingkatkan kewaspadaan dan upaya pencegahan seperti memberikan imunisasi BCG, hindari diasuh atau kontak dengan orang dewasa yang batuk, apalagi yang sudah diketahui Tbc. Apabila ada gejala demam tanpa sebab yang jelas, disertai berat badan sulit naik, batuk lebih dari 2 minggu, lemah, letih, lesu maka segeralah ke Puskesmas agar diperiksa dokter. Jika ada anggota keluarga yang dewasa menderita Tbc segera bawa anak-anak yang kontak serumah untuk diperiksa oleh dokter atau fasilitas kesehatan lainnya.

dr. Elsesmita, Sp.P

LOVE YOUR JOB AND DO WHAT YOUR LOVE

seorang istri, seorang ibu 3 orang anak yang sedang riang riangnya

© 2023 Created with love by a husband